jalan ke puncakmu berlekuk seperti pinggul gadis muda,
mulus, memikat, begitu impresif
seruas aspal licin membelah hutan seakan sisir plastik ratakan rambut anak sekolah
di sisi kanan jurang sedalam tiga pohon kelapa bersusun
aku menepi, rapat pada sejuntai akar
di tengah sepinya hutan
setiap rasa tenggelam sudah
pada kabut melayang, kita belajar mencari tanda,
telah berapa masa pepohon menjulang ?
apakah selama humus masih suburkan tanah ?
atau sekuat petani membakar dupa, putihkan udara dengan lirih dan doa doa
oh tuangila
ada pesan kitab suci
tentang surga dengan sungai sungai yang mengalir di bawahnya
tentang bebuahan yang bisa kau petik semau inginmu
oh tuangila
di segar dinginnya jalan menujumu
ingatku satu saja, sekeping uang logam keluaran 1978
pada sebelah sisi tercetak : "hutan untuk kesejahteraan"
hutan dan uang koin ialah prasasti zaman
keduanya hendak melestari, abadi laksana kepurbaan candi tanah jawa
beratus tahun silam, di gelap birunya laut
tampak armada dagang asing,
boleh saja itu portugis, inggris atau voc belanda
jelas dari atas bukit hijau
tiang kapal layar melancip sebagai siluet, menyusur tepi tanah ini
sebuah tembakan meledak dari perut meriam, robek keheningan pagi
oh tuangila
aku mengenang tetua tanah butuni, kharisma siolimbona
dan segala parabela dari negeri negeri keramat
berdiri penuh takzim dalam persaksian sumanga leluhur ;
di seputar batu popaua benteng keraton wolio
mereka melantik paduka sultan buton
oh tuangila
di hutan tropis ini, kagumku tak juga selesai
Kamis, 09 April 2015
Kamis, 02 April 2015
pada tuangila
berapa kilometer sudah meluncur dari speedometer,
ban meroda di pipi aspal,
pada sepohon ingatan
hati kita tersegar kabut
meruap antara bukit asri, wakuli, tumada hingga todanga
berapa kilometer sudah
kita melupakan waktu, menanam detik pada bau hutan selepas hujan
jalan menanjak pada kehangatan tuangila
memahat sebentuk pengertian
tanah ini, bukit ini, telah tua oleh kerinduan, oleh kasih yang mengalir
setegak batang wola, jati, dan segala suara burung dari pekatnya lambusango
serupa suara daun bakau di bibir teluk kapontori
sepanjang sore di dermaga kapontori
seusai pagi dan siang,
angin dan ketulusan terus menjalar
pada sewajah musik, senyum dan seikat kenangan...
ban meroda di pipi aspal,
pada sepohon ingatan
hati kita tersegar kabut
meruap antara bukit asri, wakuli, tumada hingga todanga
berapa kilometer sudah
kita melupakan waktu, menanam detik pada bau hutan selepas hujan
jalan menanjak pada kehangatan tuangila
memahat sebentuk pengertian
tanah ini, bukit ini, telah tua oleh kerinduan, oleh kasih yang mengalir
setegak batang wola, jati, dan segala suara burung dari pekatnya lambusango
serupa suara daun bakau di bibir teluk kapontori
sepanjang sore di dermaga kapontori
seusai pagi dan siang,
angin dan ketulusan terus menjalar
pada sewajah musik, senyum dan seikat kenangan...
Rabu, 02 Oktober 2013
Kotamara (satu)
kata dalam puisi ialah ikan ikan di selat Buton, tak mungkin habis
lahir, banyak dan menggelisahkan.
seribu jala ditebar mengikat gundah, keriangan tak berujung,
sebongkah khawatir melayang dari bukit batu,
kata dalam puisi yaitu pemberontakan cinta
kekasih mabuk dari cawan rindu
menetes dari liang rahasia, tempat beringin teduh tua dan aliran angin,
engkau membatu dalam tapa purba,
mengandung beribu buku, mengeram waktu setandus tandusnya
engkau pemilik bukit, ketika hati dan senyum
jelma nada paling asing sepanjang lorong ini,
engkau berdarah
melempar senyum sekuat puisi !
lahir, banyak dan menggelisahkan.
seribu jala ditebar mengikat gundah, keriangan tak berujung,
sebongkah khawatir melayang dari bukit batu,
kata dalam puisi yaitu pemberontakan cinta
kekasih mabuk dari cawan rindu
menetes dari liang rahasia, tempat beringin teduh tua dan aliran angin,
engkau membatu dalam tapa purba,
mengandung beribu buku, mengeram waktu setandus tandusnya
engkau pemilik bukit, ketika hati dan senyum
jelma nada paling asing sepanjang lorong ini,
engkau berdarah
melempar senyum sekuat puisi !
Kotamara
dirimu semisterius semesta
belukar impuls loncat di benak, kau tangkap seketika
karna puisi serupa jalan jalan kecil
saban sore diziarahi pejalan, remaja pacaran atau pasangan tua, menghisap hari di kotamara
kotamara,
tanah lapang tempat cinta dan keringat menjadi kerak yang melapis tegel sepanjang setapak
seluruh tubuh dan bulu mu basah, hatimu juga basah
tapi matamu tidak,
yang enggan basah pada kagum sejenak
karna kulitmu selapis debu
maka tak putus putus doa dan himne bersalto di udara
berlomba suara azan
sayup melengking dari ponsel cina di tangan penjual air mineral
modernisasi menimbun semua yang lampau
menerkam segala karat kuno, picik
dan terutama sekali,
modernisasi akan ditulis oleh mereka yang tak banyak ribut dengan suara,
tapi bekerja dalam hening,
seperti otakmu,
diam dalam bunyi,
namun ribut menggerakan bibir, kaki, tangan dan semua
belukar impuls loncat di benak, kau tangkap seketika
karna puisi serupa jalan jalan kecil
saban sore diziarahi pejalan, remaja pacaran atau pasangan tua, menghisap hari di kotamara
kotamara,
tanah lapang tempat cinta dan keringat menjadi kerak yang melapis tegel sepanjang setapak
seluruh tubuh dan bulu mu basah, hatimu juga basah
tapi matamu tidak,
yang enggan basah pada kagum sejenak
karna kulitmu selapis debu
maka tak putus putus doa dan himne bersalto di udara
berlomba suara azan
sayup melengking dari ponsel cina di tangan penjual air mineral
modernisasi menimbun semua yang lampau
menerkam segala karat kuno, picik
dan terutama sekali,
modernisasi akan ditulis oleh mereka yang tak banyak ribut dengan suara,
tapi bekerja dalam hening,
seperti otakmu,
diam dalam bunyi,
namun ribut menggerakan bibir, kaki, tangan dan semua
Jumat, 22 Februari 2013
Merak
di bangku kayu, properti kakek penjual roti, rokok ketengan dan kopi panas dari termos palstik yang pudar menua seperti sang kakek,
debu pekat serupa asap bus bus raksasa, berat berton ton menindih aspal,
tangki pengangkut elpiji 15.000 kg bolak balik beratus kali dalam sehari
aku jadi ingat sampan kecil di kali Baubau, meluncur naik turun dari muara ke mata air paling ujung di wedete, muatan penuh pasir, batu bata dan daun rumbia basah.
di bangku kayu dekat si kakek yang batuknya berdahak, tak habis 5 menit sampai jua engkau ke pelabuhan Merak, tempat sandar feri ke Lampung.
di Merak, perempuan bekerja seperti roda berputar tak henti henti hingga malam tergelap,
jangan cari lelaki, mereka memencar laron, keringatnya menjadi mutiara, gerimis di jalan, trotoar dan kantor kantor.
Merak itu pesisir di zaman Indonesia merdeka, bukan zaman Demak, Makassar atau Batavia tempo dulu,
bebannya teramat berat, menghajarnya hingga harus terus bersolek berbedak,
di sini, ada penjual gorengan, dokter 24 jam, salon, losmen melati dan kehangatan, entah berapa tarifnya,
hingga pukul 1 malam, pintu tertutup, kipas memberat oleh daki, daun nyiur dipeluk angin basah dari puncak Krakatau,
klakson bus lintas Sumatera menggertak sepiku karenamu...
(19-02-13)
debu pekat serupa asap bus bus raksasa, berat berton ton menindih aspal,
tangki pengangkut elpiji 15.000 kg bolak balik beratus kali dalam sehari
aku jadi ingat sampan kecil di kali Baubau, meluncur naik turun dari muara ke mata air paling ujung di wedete, muatan penuh pasir, batu bata dan daun rumbia basah.
di bangku kayu dekat si kakek yang batuknya berdahak, tak habis 5 menit sampai jua engkau ke pelabuhan Merak, tempat sandar feri ke Lampung.
di Merak, perempuan bekerja seperti roda berputar tak henti henti hingga malam tergelap,
jangan cari lelaki, mereka memencar laron, keringatnya menjadi mutiara, gerimis di jalan, trotoar dan kantor kantor.
Merak itu pesisir di zaman Indonesia merdeka, bukan zaman Demak, Makassar atau Batavia tempo dulu,
bebannya teramat berat, menghajarnya hingga harus terus bersolek berbedak,
di sini, ada penjual gorengan, dokter 24 jam, salon, losmen melati dan kehangatan, entah berapa tarifnya,
hingga pukul 1 malam, pintu tertutup, kipas memberat oleh daki, daun nyiur dipeluk angin basah dari puncak Krakatau,
klakson bus lintas Sumatera menggertak sepiku karenamu...
(19-02-13)
Kamis, 10 Januari 2013
perempuan pemikul keringat
perempuan memikul sekantung keringat
telah berpuluh ratus dijunjung di puncak kepala
setiap pagi, keringat keringat disetor ke majikan
taburi mesin, engsel pintu, langit langit cahaya
jadi pelumas, pendingin, penerang
di sini,
air dari kelopakmu tak boleh tetes apalagi tumpah
ubah alurnya, agar hanya keringat, yang mengalir
air dari kelopakmu harus hadir, tumbuh, bernama keringat
di sini,
air mata ialah berikat ikat jarum halus,
perih tertancap di hati, lambung dan ususmu
pagi tadi,
aku berjumpa barisan perempuan pemikul keringat
datang menemui majikannya
belilah keringatku ini ujarnya..
dengan nada setengah memaksa
mereka berderet dalam seragam kerja, model rambut sejenis dan kata kata yang berbunyi sama
lewat ruas mata, aku hirup suasana
keringat menguap sebagai matahari
sebagai mata hati
hanya di sini...
(purwakarta, 10/01/2013)
telah berpuluh ratus dijunjung di puncak kepala
setiap pagi, keringat keringat disetor ke majikan
taburi mesin, engsel pintu, langit langit cahaya
jadi pelumas, pendingin, penerang
di sini,
air dari kelopakmu tak boleh tetes apalagi tumpah
ubah alurnya, agar hanya keringat, yang mengalir
air dari kelopakmu harus hadir, tumbuh, bernama keringat
di sini,
air mata ialah berikat ikat jarum halus,
perih tertancap di hati, lambung dan ususmu
pagi tadi,
aku berjumpa barisan perempuan pemikul keringat
datang menemui majikannya
belilah keringatku ini ujarnya..
dengan nada setengah memaksa
mereka berderet dalam seragam kerja, model rambut sejenis dan kata kata yang berbunyi sama
lewat ruas mata, aku hirup suasana
keringat menguap sebagai matahari
sebagai mata hati
hanya di sini...
(purwakarta, 10/01/2013)
Senin, 31 Desember 2012
Suci Nian kisah itu
tepat pukul
12:15 aku duduk di kursi H1 twenty one
ku tak kuasa
berita kiri kanan genit menggoda
cerita Habibie
Ainun, lelaki yang singkat waktu jadi presiden negeri
berderet apresiasi
dan tanya untuknya ketika berkuasa,
aku tak
peduli itu,
ingatanku
terlempar jauh ke masa silam,
guru olahraga sekolah dasar, seorang wanita, mengangkat tubuhku tinggi-tinggi agar ku dapat
menatap Habibie Ainun dari jarak berpuluh meter di belakang kerumunan orang
memadat penuhi
lapangan tengah kota ketika Habibie Ainun bertandang ke kota kecil kami.
kini, di
tengah antrian orang-orang, kebanyakan anak muda di bioskop modern, aku
terasing,
tersihir oleh
pesona kisah, berputar di antara dua anak manusia
aku terkenang
antrian BBM di SPBU, lambat, tapi semua tenang, hikmad resapi sepi
waktu merayap, lambat sekali…
dalam gedung,
sebuah cerita panjang puluhan tahun, jerman, bandung, jakarta dilipat dalam
kerlap alur yang dimampatkan
silih berganti
mencuri tatap mata dan telinga.
aku ingin bertanya,
kenapa pare pare tempat benih bertumbuh tak disinggung sedikitpun
oh pare pare,
industri film tak menganggapmu punya arti, tanah yang begitu dicintai oleh
Habibie
perih hati
ini,
waktu 1 jam
lebih, Habibie Ainun jadi topik yang tak tuntas, serupa buku yang kehilangan
lembaran lembaran penting.
penonton
pulang dengan mata berair, hanyut oleh sungai rindu yang mengalir ke teluk
cinta
si jenius dan
si gula pasir.
Habibie Ainun,
suci nian cinta itu….
Minggu, 09 Desember 2012
Perempuan
Perempuan gelisah di tepi pagar
perempuan termenung di tepi pagar
perempuan
merapal mantra
ikat rindu di ujung desah
belajar dari buku buku tanpa sampul
tentang setia berketerusan
terpisah
berjarak jarak dari lelakinya
ribuan pesan melata bagai angin
jatuh dalam bungkusan sampah
jatuh dalam bungkusan sampah
telah
berhingga waktu menanti
dalam dendam yang bertiup
dan dedaun menguning
dan dedaun menguning
perempuan termenung di tepi pagar
mendamba
lelakinya
pulang dengan sekerat senyum
dan berlembar kisah
dan berlembar kisah
perempuan
merapal mantra
ikat rindu di ujung desah
belajar dari buku buku tanpa sampul
tentang setia berketerusan
Sabtu, 08 Desember 2012
Malam
-->
berlayar di sekujur hasrat
hatimu,
berjejak menangkap
gelisah di beribu gunung
setelah kata pertama
meletus
engkau jelma
pengembara dalam lautan sunyi
berlayar di sekujur hasrat
engkau jelma
pengembara kesunyian
telaten merawat sepi yang bertahta di segala imaji
ombakmu,
seliar debur pengantin,
di setiap simpang
kata
dalam puja puji
gadis bermata sendu
hatimu,
sebilah pisau tajam
siap sejak waktu bermula
mengiris pekatnya
malam,
di ujung malam
sebelum tahajud lepas,
sajadahmu basah
jadi bendungan
air mata….
Setangkai
Sengaja aku plester agar erat menempel
serupa iklan peringatan pemerintah di bungkus rokok
ada bahaya tersembunyi dari sebatang rokok
begitupula setangkai bunga merah,
telah menawan aku
dalam rindu paling perih
berabad lamanya…
Langganan:
Postingan (Atom)