Minggu, 09 Desember 2012

Perempuan

Perempuan gelisah di tepi pagar
terpisah berjarak jarak dari lelakinya
ribuan pesan melata bagai angin
jatuh dalam bungkusan sampah

telah berhingga waktu menanti
dalam dendam yang bertiup 
dan dedaun menguning

perempuan termenung di tepi pagar
mendamba lelakinya
pulang dengan sekerat senyum 
dan berlembar kisah


perempuan
merapal mantra
ikat rindu di ujung desah
belajar dari buku buku tanpa sampul
tentang setia berketerusan

Sabtu, 08 Desember 2012

Malam

-->
hatimu, 
berjejak menangkap gelisah di beribu gunung
setelah kata pertama meletus
engkau jelma pengembara dalam lautan sunyi

berlayar di sekujur hasrat
engkau jelma pengembara kesunyian
telaten merawat sepi yang bertahta di segala imaji 

ombakmu,
seliar debur pengantin,
di setiap simpang kata
dalam puja puji
gadis bermata sendu

hatimu,
sebilah pisau tajam
siap sejak waktu bermula
mengiris pekatnya malam,

di ujung malam sebelum tahajud lepas,
sajadahmu basah 
jadi bendungan air mata….

Setangkai


Setangkai bunga merah terselip di depan pintu rumah kita
Sengaja aku plester agar erat menempel
serupa iklan peringatan pemerintah di bungkus rokok
ada bahaya tersembunyi dari sebatang rokok
begitupula setangkai bunga merah,
telah menawan aku
dalam rindu paling perih
berabad lamanya…

Ajari Aku


ajari aku cara,
menulis tanda baca titik koma sore ini,
ketika dedaun diam melambai
ajari aku mencungkil binar surga yang berpendar di matamu,
sebutir kelopak tasbih,
lengkung zikir bagai cahaya

ajari aku cara membasuh wajah
wudhu yang tak kering kering
oleh angin, oleh panas, oleh waktu…..
duhai kekasih, ajari aku
wajah cinta sesungguhnya

Bilik

-->
pekat udara berlari jenuh di celah telinga
tiup-tiupkan desah
tentang mawar yang didih, ruapkan wangi
malam ini, kusambangi engkau di bilik kecil,
dinding kumal, terkelupas 
engkau daulat sebagai surgamu
kasur busa memberat daki, sisa kulit, dan ludah
bantal, selembar sarung yang payah,
menjadi prasasti alam
khutbah tak butuh minyak kesturi
hanya sebungkus mie instan, doa penahan lapar
yang memahat syukur di cekung mata,
asap rokok berputar genit di udara
serupa dupa
engkau saksi,
betapa miskin dan derita
makna paling sejati dari bahagia

berkendara zikir,
engkau terpelanting dalam semesta takjub

Selasa, 01 Mei 2012

Hanya Puisi

hanya puisi
kita merdeka
bersenyawa partikel
menetes bening indah, dari murni senyum

hanya puisi

kata dan doa menjelma tinju
mengelopak eritrosit di sekujur sel

hanya puisi
pertanyaan kita
meruap sebagai udara
terembun di setiap simpang jalan
jadi tanda,
 penuntun dalam mengeja seribu wangi

hanya puisi
kekasih menjelma kekasih

Penyair

baru saja penyair tua melempar kata, seumpama serbuk styrofoam memutih, ringan, tak berpijak,
seperti engkau yang menyelipkan sehelai bulu angsa di arus derasnya sungai
bercumbu kilau matahari yang berkilat,
sungai dan penyair tua, persis seperti kelapa muda dengan air nan gurih

anak-anak muda, mahasiswa itu,
menjolok kesal penumpang angkot yang pengap,
dimanakah ketulusan itu bermula:
pita suara demonstran yang mabuk karena orasi, asap ban racun paru-paru
atau,
ibu dengan setumpuk kantung kresek, berisi sayur, ikan dan buah impor busuk yang dijual murah
atau,
polisi yang letih mengalihkan arus kendaraan yang membara
atau,
pada anggota dewan yang tak jenuh berkaca pada suara dalam diri

penyair tua baru saja melempar kata,
menjaring harapan-harapan semu,
bahwa hari ini engkau demonstran, mahasiswa yang marah,
entah sang waktu menahan perih
betapa besok uang dan kerakusan membungkam engkau dalam sepi